Kisah Si Kerupuk Puli
Flasback Kegembiran Masa Kecil
Dulu, jaman ketika snack chiki sangat populer, permen sugus dan wafer merek superman begitu digemari, serta uang 25 perak bisa dapat kerupuk lima biji, kerupuk puli sangat berarti bagi kami. Bukan hanya kerupuk puli, pun juga kerupuk impala, kerupuk wedhi(digoreng dengan pasir), kerupuk putih dan juga pasti..kerupuk upil. Jika kerupuk yang lain harus kami beli di warung, maka kerupuk puli bisa di buat oleh ibu sendiri di rumah. Dia adalah makanan ringan yang sangat menyenangkan bagi kami, anak-anak waktu itu, ketika chiki, sugus dan wafer hanya sesekali bisa kami nikmati. Murah,renyah, hepi...
Kerupuk ini, di daerah lain ada juga yang menamakan kerupuk bleng, bisa dibuat dari nasi sisa kemarin malam, ditambah puli dan diolah sedemikian rupa sehingga menjadi makanan yang gurih dan renyah. Saya sebenarnya lebih suka kerupuk upil, tetapi karena untuk mendapatkannya harus beli dulu, ya sudah makan si puli aja. Tinggal makan.. satu kalengpun habis.
Mengenang puli di masa kanak-kanak, jadi teringat ibu di kampung, desa yang damai, permainan-permainan kecil yang kami buat dan teman-teman yang degil dan polos. Hal-hal sederhana yang ternyata mampu membuat kami gembira. Kami tidak mengerti apa arti bahagia waktu itu, pokoknya senang.
Waktu terus berjalan, kompleksitas hidup membuat kami kemudian terpaksa meninggalkan masa kanak-kanak, meninggalkan hal-hal sederhana yang dulu mampu membahagiakan kami. Sekarang terkadang kami bingung, apa itu bahagia, begitu berlikunya jalan menuju kesana. Padahal semuanya ada disekitar kita setiap saat. Hal-hal sederhana yang lupa untuk kita ingat yang mungkin mampu membangkitkan simpul saraf kebahagiaan.....
Cerita kita sebenarnya sama, Kawan! Kita masing-masing punya hal-hal sederhana yang mampu membahagiakan, dimasa lalu ataupun saat sekarang. Jangan berpikir bahagia itu melulu hal-hal serius, coba mulai sekarang kita pikir hal-hal sederhana masa lalu, kita pakai lagi di masa sekarang. Ketika tubuh penat dan kegembiraan terasa meninggalkan, percayalah bahwa dia tidak pergi. Dia hanya ngambek karena kita tidak pernah menengoknya dengan syukur.
Ada seorang teman dari Kota Malang, kalau boleh saya mengutip kalimatnya, ”Kebahagiaan itu tidak sama harganya, tetapi kadarnya sama bagi semua orang.” Artinya apa mas kok puitis banget? Ya saya nggak tahu makna persisnya, hanya mengutip saja...
25 March 2009
Subscribe to:
Comments (Atom)

